Kamis, 21 November 2019

Hari Libur

Pembagian rapot pun sudah dilaksanakan kemarin di sekolah. Dan pada pembagian rapot kemarin, aku dinyatakan naik ke kelas XII dengan nilai yang cukup baik. Meskipun aku tidak masuk rangking, aku tetap senang karena bagiku yang penting adalah aku naik kelas dan tidak diremedial. Karena pembagian rapot telah usai, maka aku pun bisa menikmati liburan panjang yang menyenangkan.
Sudah terbayang olehku bahwa liburan kenaikan kelas kali ini, Ayah dan Ibu akan mengajakku berlibur ke tempat wisata yang menyenangkan seperti biasanya. Bahkan, aku sudah menyiapkan baju dan perlengkapan lainnya sejak jauh-jauh hari. Kali ini aku akan berlibur kemana ya? Tanyaku dalam hati yang kemudian aku jawab Ah, kemanapun itu, yang penting liburanku menyenangkan!
Aku pun lalu menemui Ibu dan Ayahku yang kebetulan sedang di meja makan. Lantas aku pun bertanya, “Ayah, Ibu, liburan kali ini kita akan kemana?” Setelah mendengar pertanyaanku, Ayah dan Ibu kemudian saling pandang, dan kemudian Ayah pun berkata, “Nak, kali ini kamu liburan sama Ibu di rumah, ya. Soalnya, Ayah kali ini sedang ada tugas di luar kota. Nanti kalau ada waktu libur lagi, Ayah janji kita akan berlibur lagi seperti biasa.” Sejujurnya aku kecewa mendengar pernyataan itu. Namun, mau bagaimana lagi, aku hanya bisa menerima keputusan dari Ayahku.
Hari-hari liburku pun hanya bisa kulewati di rumah saja. Sebetulya, aku ingin sesekali pergi ke luar rumah, entah itu sendirian ataupun bersama teman. Namun sayangnya, Ibuku melarang dan aku pun malah disuruhnya membantu setiap pekerjaan rumah. Kalaupun aku ke luar rumah, biasanya hanya ke pasar saja, itu pun juga ditemani oleh Ibu.
Ibuku berkata bahwa aku tidak boleh keluar rumah karena Ibu ingin mengajariku cara mengurus rumah, memasak, mencuci, dan menyetrika baju selama liburan sekolah. Ibu mengajariku hal-hal tersebut agar aku bisa mandiri jika suatu saat nanti aku kuliah atau bekerja di perantauan.
Selain mengajarkan hal-hal tersebut, Ibu juga ingin supaya aku fokus belajar di rumah guna menyambut ujian nasional dan sejumlah ujan lain yang akan aku hadapi nanti. Jujur saja, aku sebetulnya ingin menolak apa yang Ibu lakukan kepadaku. Namun, apa boleh buat, aku hanya bisa menerima dan mengikuti saja apa yang Ibu perintahkan kepadaku.
Pada suatu sore, Ibu tiba-tiba mengetuk pintu kamarku. Aku pun membuka pintu dan berujar, “Ada apa, Bu?”
“Kamu sekarang mandi. Ibu tunggu di luar.” “Loh, kita memang mau kemana, Bu?”
“Ibu mau ajak kamu ke taman kota. Ya, hitung-hitung liburan lah, masa mau di rumah terus?”
“Hah, yang betul? Baiklah kalau begitu, akumandi dulu ya, Bu.”
Setelah mandi, aku dan Ibu pun kemudian bergegas ke taman kota. Meskipun hanya berjalan-jalan di sekitar taman kota, namun entah mengapa aku merasa sangat senang. Entah mungkin karena beberapa hari kemarin terlalu lama di rumah, atau mungkin karena ini pertama kalinya aku berjalan-jalan di taman ini sekian lama. Atau, mungkin juga karena ini adalah liburan pertamaku bersama Ibuku saja. Ah, apapun itu, yang jelas aku akan menikmati suasana menyenangkan ini.

Persahabatan Berawal dari Permusuhan


Hasil gambar untuk gambar persahabatan
Sahabat selalu ada saat kita membutuhkannya, menemani kita saat kita kesepian, ikut tersenyum saat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis. Kita tak pernah tahu kapan dan melalui peristiwa apa kita bisa menemukan seorang sahabat.Mungkin ada persahabatan yang berawal dari perkelahian.
Kring...kring...kring,si penunjuk waktu membangunkan ku. Aku pun bergegas untuk bangun, merapikan tempat tidur dan mandi.
‘’I Feel Good...!’’aku bernyanyi nyaring didalam kamar mandi. Untuk memuaskan keinginanku yang tak kesampaian menjadi seorang penyanyi terkenal.
Setelah selesai mandi, aku memakai seragam dengan rapi dan menyisir rambut. Saat sedang asyik menyisir rambut, tiba tiba terdengar suatu suara dari arah dapur.
‘’ jangan berlama lama sisirannya !ayo cepat kamu sarapan’’ternyata itu adalah mahluk paling cerewet di bumu ini, namun ia sangat kusayangi. Itulah mamaku. Tak terbayang oleh ku saat dalam kandungan, ia selalu membawaku kemana mana, tak pernah aku ditinggalkannya.
Tiba didapur, kulihat makanan favoritku terhidang dimeja makan, yaitu gulai ayam.”nyam nyam enak banget gulai ayamnya ma jika ada kontes masak memasak gulai,mama pasti menang” pujiku kepada mama sambil melahap makananku. “hahaha... bisa saja kamu ini” jawab mama sambil tersenyum simpul kepadaku.

Waktu telah menunjukan pukul 06.30wib, saatnya untuk berangkat kesekolah. Tak lupa aku membawa topi upacara dan memasukkanya kedalam tas, karena saat ini adalah hari senin. Namum baru saja mau melangkah keluar rumah, ada suara itu lagi terdengar (suara mama).” Eits....!jangan langsung pergi, pamitan dulu pada mama” ucap mama dengan tegas sambil menjulurkan tangan kanannya.
“oh iya, aku lupa” aku pun menyalam tangan mama dan berpamiran untuk berangkat sekolah.” Hati hati dijalan ya nak “ seru mama dari depan pintu rumah . “iya ma” jawabku

Kutelusuri jalan denagn seorang diri. Sambil berjalan aku bernyanyi dengan sendu . “ makan- makan sendiri, cuci piring sendiri, ke sekolah jalan sendiri , pulangnya juga sendiri.

Setelah lama berjalan, akhirnya aku sampai disekolah.







Kamis, 07 November 2019

Disappear

Hasil gambar untuk gambar eh kok gak ada anjing ilang goblok
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 9 June 2019
KALAU boleh jujur, aku menyesal sudah memberontak nasihat nenek. Padahal, aku tahu konsekuensi yang akan didapat pasti besar dan berdampak buruk untukku. Begitulah, tingkah laku seorang gadis berumur lima belas tahun kebanyakan; memberontak.
Pertama-tama, dampak yang paling kentara untukku adalah: menghilang di dunia antah berantah. Yang kedua, aku tidak tahu di mana pintu untuk kembali ke dunia manusia. Ketiga: aku tersesat.
“sial!” aku menendang bongkahan batu yang dengan ajaibnya bisa terlempar begitu jauh. Tapi, untuk saat ini mari jangan membahas hal itu dulu, karena aku kedatangan masalah baru, yaitu: matahari kembali ke singgasananya di ufuk barat dan aku masih linglung mencari arah pulang. Hawa dingin terasa menusuk ke dalam tulangku, gigiku bergemeletuk menahan dingin.
Jadi, dampak buruk yang keempat adalah: aku bisa mati karena terkena hipotermia.
“diam!” Tiba-tiba ada yang menarik tangganku sehingga aku terjungkal ke belakang. Baru saja aku ingin melayangkan protes, orang itu sudah membekap mulutku.
Dia mendesis lirih, “diam atau kita mati!”
“tap—”
“diam saja!” bentaknya tertahan.
Dia lalu terkekeh pelan, “kau ingin tetap hidup, ‘kan?”
“kau tidak melihat pangeran?!” Teriak seseorang dengan lantang. Setelah suara itu, suara tertusuk langsung masuk ke telingaku.
Jangan bilang…
Orang itu mengagguk pelan. Isyarat mutlak yang harus kutaati jika aku masih ingin tetap hidup.
Oh, sekarang aku paham maksudnya.
Tak lama, suara geraman penuh kekesalan menggema di tengah keheningan malam yang berubah mencekam. Lalu, suara kaki yang berlari menjauh menjadi hal terakhir yang membuat menahan napas.
“akhirnya..” helaku sembari mengelus dada.
“hei, namamu siapa?” baiklah, aku baru ingat kalau masih ada orang lain.
Aku terdiam.
“apakah sopan mengabaikan pertanyaan orang lain?”
“Lyra.”
“Lyra? namamu buruk.” Komentarnya sembari terkekeh kecil.
Wajahku merah padam, “apa yang kau bilang?!”
“aku Leo, salam kenal!”
Alku terperangah.
“ah ya, kau ikut denganku ya?”
“unt—”
“kau akan dapat imbalannya, tenang saja!” serunya.
Aku mengerenyitkan dahi, “memangnya aku harus melakukan apa?”
“menjadi tunanganku.”
Cerpen Karangan: LunaticKIm
Berkecimpungan di dunia wattpad juga, dengan nama pena yang sama. Suka BTS, Army hardcore. Newbie~
Cerpen Disappear merupakan cerita pendek karangan .
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Serangan Alien

Hasil gambar untuk alien
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)Cerpen Lucu (Humor)Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 August 2019
Di pagi yang tidak begitu cerah itu Ari bersiap-siap berangkat ke sekolahnya. “Bu, aku berangkat dulu ya”. Ari pamit kepada Ibunya. “Ya, hati-hati di jalan ya nak”.
Ari menaiki sepeda yang dimilikinya sejak smp kelas satu itu untuk berangkat ke sma, tetapi seperti biasa Ari pergi ke rumah Wawan teman sekelasnya untuk berangkat bersama karena Wawan juga naik sepeda.
“WAWAN!!!”. Ari memanggil Wawan.
“Iya sebentar, baru pake sepatu”. Sahut Wawan dari dalam rumah.
“Buruan, nanti telat!”. Kata Ari.
Mereka berangkat ke sekolah melalui jalan yang sama setiap harinya, tetapi tidak membosankan juga karena mereka melewati jalan yang kanan kirinya sawah, jadi udara pagi terasa agak sejuk walaupun banyak sepeda motor yang melewati jalan itu. Tetapi Ari merasa ada sesuatu yang aneh sewaktu mereka sampai di jalan dekat pabrik gula.
“Wan, lo ngerasa ada yang aneh gak sih?”. Tanya Ari.
“Apaan?”. Wawan tanya balik.
“Masa asap pabrik warnanya merah jambu?”. Tanya Ari keheranan.
“Lho, kan emang dari dulu warnanya kayak begitu”. Jawab Wawan.
“Perasaan kemaren warnanya masih hitam”. Ungkap Ari dalam hati.
Sampai di perempatan jalan raya dekat pabrik gula, Ari masih kepikiran asap pabrik gula tadi. Lalu terjadi kejadian aneh, terdengar suara gemuruh di langit seperti akan turun hujan tetapi tidak turun hujan, melainkan sebuah pesawat alien yang sangat besar ditemani pesawat pesawat kecil di sekelilingnya yang akan menginvasi bumi. Ari ketakutan dan menengok ke Wawan, ternyata wawan tidak ada dan pengguna jalan lainnya juga tidak ada, hanya ada Ari sendiri di perempatan itu menunggu lampu hijau rambu rambu lalu lintas, dengan cepat Ari lalu pulang ke rumah.
Dilihatnya rumah-rumah tetangga Ari saat menuju rumahnya tetapi tidak ada orang di sekitar kampung Ari, hanya ada ari sendiri saat itu, setelah sampai di rumah ternyata tidak ada orang juga di rumah, Ari lalu mengecek kamarnya ternyata ada dirinya sedang tidur di kasur, Ari kebingungan dan tiba-tiba ada seseorang yang datang dari belakang lalu menampar pipi Ari, ternyata orang itu adalah Ibu Ari yang membangunkan tidur Ari.
“Ari, bangun nak ini sudah jam enam!”. Ibu Ari membangunkan Ari.
“Lho, itu tadi cuma mimpi??”. Ari kebingungan.
“Cepetan bangun, nanti telat masuk sekolah!”. ucap Ibu Ari.
“Iya bu, siap!”. tegas Ari.
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Matematika Kronis

Hasil gambar untuk gambar matematika
Senyap ini merongrong ditiap sudut kelasku. Diam seribu kata penuh makna. Hiruk pikuk yang ramai dengan celotehan masa putih abu-abu, seakan senyap dalam jangka waktu enam puluh menit. Otak teman-temanku tertekan dengan keras, berfikir sekua-kuatnya dan berjuang semampunya dalam jangka waktu enam puluh menit. Itulah yang sedang dirasakan teman-teman seperjuanganku. Menghadapi ulangan matematika yang mengerikan. Aku binggung tak alang kepalang, teman-temanku hanya berfikir dangkal. Matematika adalah pelajaran yang yang tidak begitu di segani di kelasku. Tapi tidak denganku, aku lebih suka pelajaran matematika dari pada pelajaran seni tari, seperti contoh kawan sekelasku. Namanya Yana, dia teman sebangku ku. Dia paling anti dengan yang namanya matematika, setiap ulangan matematika tak pernah dia tidak mengeluh. “ Aku tidak bisa matematika Whin….aku benci matematika.” Ucapnya dengan wajah memelas. Mungkin saja dia tidak suka dengan ilmu pasti, tapi kenapa dia masuk jurusan IPA yang notabennya setiap hari tidak akan luput dengan hitungan. Setiap hari pati ada tiga mata pelajaran menghitung dari matematika, fisika dan kimia. Teman-teman sekelasku pusing saat itu juga dibuat soal hitungan pasti, yang harus segera di selesaikan dan tidak ingin mendapatkan nilai dibawah 75. Oh teman-teman, cobalah kalian sedikit bersimpatik dengan matematika, ilmu itu tidak terlalu susah kok. Hanya ada satu kunci menyelesaikannya kawan. Pertama sukailah guru matematika terlebih dahulu. Kedua , musnahkan prinsip-prinsip hidupmu dengan mengandalkan kebetulan. Ketiga bukalah buku matematika mu tiap harinya walau hanya sepuluh sampai dua pulih menit saja. Setidaknya pahami maksudnya. Keempat yaitu jangan takut untuk mencoba.
Tragis memang melihat pusing melanda kepala teman-temanku.
“Waktu selesai harap di kumpulkan di depan !” ucap pak Agus guru matematika paling disiplin. Teman-temanku tersentak seketika tak beraturan.
“ Belum selesai pak… lima menit lagi ya pak “teriak kawan-kawanku histeris.
“ Selesai tidak selesai segera di kumpulkan”
Seketika kertas ulangan yang sudah bertuliskan lambang-lambang tulis eksak sudah berada ditangan guru matematika.
Kawan-kawanku berhamburan saat itu juga.
“Jawabanmu nomer dua berapa ?” tanya Zuba kepada Yani anak rangking satu di kelasku.
“Jawabanku g(x) = 4x+20x²+25x³.”
“Apa??? Jawabanku salah donk kalau gitu” balas Zuba tidak sadarkan diri. Tubuhnya terhempas dilantai begitu saja tak beraturan, teman-teman sekelasku semuanya syok mendadak. “ Gimana ini ?? Zuba pingsan seketika “ ucap Yani.
” Kenapa kok bisa pingsan?? Bagaimana cara mengangkatnya ke UKS ??” ujar Seto.
Teman-teman sekelasku binggung sekali kalau Zuba yang pingsan, kami binggung kalau Zuba yang pingsan repot sekali membawanya, karena tubuhnya yang besar jadi harus ekstra tenaga menganggjkatnya.
Terik matahari panasnya tak terhingga menyerap tulang-tulangku tak kenal apapun. Kulit hitamnku semakin lama semakin panas, menusuk di sumsum tulang rusuk ku. Siang ini waktu telah menunjukkan waktu 14.00 WIB, saatnya membuang rasa stress mendalam akibat ulah matematika kronis. Mandi selama tiga jam menjadi salah satu pilihan terakhir bagi penderita matematika kronis. Seperti tragedi siang tadi Zuba yang tengah pingsan oleh matematika. setelah di wawancarai mengapa dia tiba-tiba pingsan dia menjawab dengan wajah memelas.
“ Kepalaku pening seketika saat mendengar jawaban matematika Yani. Itu melenceng jauh dengan jawabanku” cetusnya.
“ Aku harus gimana whin”” gimana nati kalau aku remidi??. Otakku sudah buntu, mampet dan tidak bisa di bersihkan lagi.” Sambung Zuba.
Sebegitu kroniskah matematika hingga membuat kawan-kawanku tak berdaya mengahadapinya. Bermandikan air bening satu bak mandi penuh selama tiga jam memang pilihan tepat meluruhkan lambang-lambang eksak yang tak mempunyai sentuhan seni. Akupun tak mau kalah, kumanjakan seluruh tubuhku dengan sentuhan klasik air bening yang transparan. Tiga jam penuh kamar mandi ku pakai tanpa gangguan dari siapapun. Tidak pula ibuku, ayahku, dan kakak adikku. Otakku seakan di ganti dengan otak yang baru. Segar tak terperikan, oh nikmatnya hidup ini jika tak ada yang mengaggu.
“Tilulitt tilulitt” ponselku berdering seketika, itu tandanya ada sms yang masuk. Ku selesaikan upacara mandiku dalam rangka membuang gejala virus-virus matematika kronis, untuk segera membuka sms yang tengah menghiasi layar ponselku.
Upacara mandiku 3 jam penuh sukses tanpa gangguan whin
Sender : Yana
Ah dasar Yana upacara mandiku juga berjalan dengan sangat sukses dan lancar tanpa gangguan dari siapapun.
Upacara mandiku juga berjalan dengan lancar tanpa halangan
To : Yana.
Tragedi matematika tidak berakhir sampai di sini, ada ulangan pasti juga ada hasil ulangan. Pagi ini ada pelajaran matematika, kabarnya hari ini pak Agus akan membagikan hasil ulangan kemarin. Kawan-kawanku sudah menyiapkan mental sekuat-kuatnya.
“ Oh mimpi apa aku tadi malam, pagi-pagi begini sudah ada matematika. oh Tuhan selamatkan aku dari virus-virus matematika kronis ini.” Ucap Uus
“Iya siapkan mental sekuat-kuatnya sajalah.”
Hentakan kaki terdengar semakin kerras dan mendekat ke ruang kelasku.
“ Selamat pagi anak-anak” ucap pak Agus guru matermatika.
“Pagi pak……” balas kalwan-kawanku sekelas.
“ Hari ini saya ingin membagikan hasil ulangan kemarin, saya sangat kecewa dengan hasil ulangan di kelas ini. Hanya ada lima anak saja yang tuntas dan lolos dari KKM “ desis pak Agus dengan ekspresi kecewa. Saat itu juga syok melanda di otak kami masing-masing.
“Akan saya bacakan yang lolos KKM, hanya ada lima anak saja yaitu Yani, Seto, Rangga, Tino dan Whina saja.dan yang lain tidak lulus KKM.”
Braakkkkkk aku kaget melihat kejadian di pagi ini. Teman-temanku sekelas pingsan semua kecuali lima anak yang di sebutkan tadi. Oh syok telah melanda jiwa-jiwa kawanku. Virus matematika kronis telah menyerang seisi kelas XI IPA 2. Sampai saat ini belum ada yang bisa menyembuhkan penyakit matematika kronis. Oh Tuhan kelasku kacau akibat matematika kronis.